Semangat Ramadhan

Semangat Ramadhan


Oleh winarto



Hakikat Ramadhan Adalah pembakaran nafsu-nafsu, baik nafsu yang buruk maupun yang baik, sesungguhnya nafsu itu menipu. Pembakaran agar hati menjadi kering dari nafsu yang meliputinya, seperti tanah liat yang kering yang telah mengalami pemanasan sehingga semua bau busuknya menghilang hingga siap menjadi Adam (sesuatu yang tidak ada) yang siap dinobatkan menjadi Kalifah Fil Ardhi pada saat ia mendapatkan Anugerah Lailatul Qodar.



Ada yang unik yang menjadi tradisi disetiap ramadhan, yaitu kita menjadi lebih semangat, bergairah, dan ada yang diharapkan, paling tidak ada empat hal yang kita harapkan dari ramadhan, bisa jadi keempat hal inilah yang membuat hati kita lebih bergelora menjalani ramadhan, himmah muncul berkobar seperti habis di charge. Tetapi setelah kita meninggalkan ramadhan akankah semangat itu tetap membara?.



Rahmat



Keempat hal itu pertama adalah rahmat, rahmat adalah satu hal di awal ramadhan yang paling ingin di raih oleh setiap muslim yang menyadari keistimewaan orang yang mendapatkan rahmat Allah. Rahmat adalah satu wujud kasih sayang dari sifat rohman dan rohim-Nya Allah. Orang-orang yang beruntung mendapat kan nikmat rahmat ini, keistimewaannya adalah ada bias dari rahmatNya yang memancar dari dalam dirinya.

Ada inner beauty yang muncul dari dalam dirinya, ia menjadi lebih pemurah, mampu merasakan keadaan orang lain disekitarnya, mampu mengatur mana kepentingan Allah dan mana kepentingan pribadi, mampu membagi kasih sayang.

Didalam dirinya juga muncul satu energi cintakasih kepada sang Pengasih, ini sebenarnya rahmat terbesar yang bisa diraih di sepuluh hari awal ramadhan. Mencintai Allah adalah sarat utama bagi seseorang bisa disebut mukmin.Sebuah firman Allah mengatakan,



Kamu sekali-kali tidak sampai pada kebajikan (amal sholeh), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang paling kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengtahui.



Hanya orang-orang yang shidiq, jujur saja yang mampu menerima rahmat cinta kepada Allah, Sebab dibutuhkan kejujuran hati untuk menafkahkan kepada Allah sesuatu yang paling di cintai. Bisa saja seseorang membagi-bagi hartanya, berinfak misalnya tetapi harta dan segala yang sifatnya yang lahiriah itu bukanlah sesuatu yang paling di cintai oleh orang tersebut, jadi orang tersebut belumlah termasuk orang yang Shidiq untuk dikatakan sampai pada amal sholeh.

Syarat utama untuk sampai kepada Amal sholeh adalah sifat shidiq, jujur, kedua berani mengorbankan harta yang paling dicintai. Apa sih sebenarnya harta yang paling dicintai oleh setiap orang. Yang paling di cintai setiap orang adalah dirinya sendiri, jiwanya.

Sudahkah Jiwa ini benar-benar tunduk dihadapan Allah ataukah masih menuhankan hawa nafsu, bukankah bukti seseorang mencintai Allah dan rosulNya adalah mematuhi dan mengikuti perintahNya.

Jika sudah Shidiq, berani mengorbankan harta dan jiwanya untuk Allah dengan tunduk dan pasrah kepada rosulNya maka dia telah mendapatkan rahmat Allah berupa amal sholeh. Rahmat inilah yang dikehendaki setiap muslim di sepuluh hari awal romadhan, berupa akhlak rohman dan rohim yang Allah turunkan kedalam hatinya.



Maghfiroh (ampunan)



Hanya orang-orang yang telah mendapatkan limpahan rahmat yang berupa kebajikan (amal sholeh) yang ia dapatkan di sepuluh hari awal romadhan saja yang berhak mendapatkan Maghfirah, ampunan yang luas yang dapat membersihkan dosa-dosanya .

Rahmat amal sholeh (rohman & rohim) besar sekali manfaatnya, Karena setiap amal sholeh pasti mendapatkan balasan, berupa pahala yang berlimpah, pahala yang berlimpah yang tak habis-habisnya inilah yang dapat membersihkan dirinya dari karat-karat dosa, yang pada akhirnya ia mendapatkan Ampunan Allah, (maghfirah) disepuluh hari pertengahan ramadhan.

Sesuatu yang sangat istimewa jika telah mendapatkan dua limpahan anugerah dibulan suci yakni rahmat dan maghfiroh. Karena kedua anugerah itulah yang menyebabkan seseorang mendapatkan anugerah ketiga. yakni terbebas dari neraka.



Bebas dari api neraka ,‘itqu min al nar



Seseorang tidak akan terbebas dari api neraka jika ia tak mendapatkan ampunan (maghfiroh) yang membersihkan dosa-dosanya, seseorang tidak akan mendapatkan ampunan (maghfiroh) Allah jika ia tidak mendapatkan rahmat Allah berupa sifat Ar Rohman dan Ar Rohim.

Ketika seseorang sudah terbebas dari api neraka maka tinggal satu panggilan saja Allah akan menjemputnya pada pertemuan akbar di malam-malam ganjil sepuluh hari menjelang Syawal, yang disebut sebagai malam lailatul Qodar



Malam Lailatul Qodar



Jika seseorang benar-benar istiqomah beribadah dan itiqaf selama sebulan penuh maka, pintu untuk mendapatkan lailatul qodar sangat terbuka. Dan sangat langka orang yang mendapatkan lailatul qodar mencarinya 10 hari menjelang syawal. Bagaimana akan mendapatkan lailatul qodar sedangkan syarat untuk mendapatkanya ia terlebih dulu harus mendapatkan rahmat, maghfiroh dan terbebas dari neraka, sedangkan ketiga hal itu turunya dari awal ramadhan (rahmat), pertengahan(maghfiroh), dan 1/3 akhir ( itqu min al nar ).



Apa sih sebenarnya lailatul qodar itu?



Adalah malam yang dinantikan setiap muslim, ia turun semenjak hari-hari belasan romadhon hingga akhir romadhan. Ia adalah sebuah pesta seperti pesta pernikahan tetapi lebih besar lagi yakni berupa penobatan seseorang yang telah mencapai makom tertentu yang sangat dekat dengan ِAllah. Orang-orang yang mendapatkan atau merasakan turunya Lailatur qodar memiliki tingkatan Para Arifin Billah juga Syeikh Mursyid Akmaliah, membaginya dalam tiga tingkatan,



1. Yang merasakan

2. Yang merasakan dan menyaksikan

3. Yang merasakan, menyaksikan dan terlibat



1. Pertama yang merasakan.



Pengaruhnya dalam hatinya menjadi sejuk dan tentram. Setahun kedepannya semangat beribadah menjadi lebih kuat dan istiqomah, lebih mementingkan ibadah dibanding yang lainya. Merasakan lailatul qodar pada tahapan ini seperti hijarah dari sesuatu yang berubah-ubah (Tabiat) kepada seuatu yang lebih kekal yaitu jiwa yang cendenrung kepada Allah.



2. Yang Merasakan dan Menyaksikan.



Merasakan dan menyaksikan Lailatul Qodar adalah ujian yang berat, terutama bagi para salikin, karena merasakan dan melihat memiliki berbagai tingkatan yang semuanya bisa membuat salikin tergelincir, jika tak mampu memahami penglihatannya itu. Secara garis besar di bagi dalam dua Tingkatan



Pertama tingkatan nafsu / jiwa.



Salikin ini merasakan sampai ke alam bathiniyah, jiwa, ia akan meyaksikan perhelatan turunnya lailatul qodar itu disaat dzikir, antara tidur dan jaga saat tertidur atau didalam mimpinya. Suatu peristiwa yang seolah-olah memerankan dirinya yang sebenarnya adalah perjuanganya menyibak nafsu pada setahun kedepan. Ini adalah para salikin ditingkat mutawasyitoh. Berhati-hati jika melewati wilayah ini karena bisa terjebak dan tidak mau keluar, seolah-olah ia sudah Wushul/ Ma’rifah. Padahal sebenarya belum mampu menyibak atau membersikan hati dari nafsu. Orang-orang yang sedang berjuang menegakan kalimat tauhid “LA ILAHA ILA ALLAH” di dalam hatinya



Kedua Tingkatan Hati/Qolbu/ruh.



Orang–orang yang sampai masuk kewilayah Alam Qolbu (ruh), yakni di wilayah ruhaniah, ia melihat lailatul qodar seperti sebuah peristiwa di dalam film, dirinya tidak melihat jasadnya, namun ia merasakan keberadaan dirinya, ia hanya menggunakan pendengaran, penglihatan dan aqal untuk menyaksikan turunnya lailatul qodar, ia seperti berjalan diatas, di luar angkasa, seperti memasuki planetarium dan seolah-olah menjadi satu bintang, ia memasuki alam ini tanpa menggunakan jasad, hanya cahaya, pendengaran, penglihatan dan aqal namun sebenarnya ia masih di pengaruhi oleh ruhnya karena ada rasa ada.Ia merasakan keadaan dirinya walaupun ia tak melihat jasadnya. Dan ini adalah puncak perjalanan seorang hamba (muntaha) karena ia telah sampai kepada apa yang dinamakan Arsyullah. Orang-orang yang telah bersih dari nafsu kedirian, dan pengakuan dan tenggelam dalam qolbu, ruhaniah.



3. Yang Merasakan dan Menyaksikan dan Terlibat



Yang ketiga ini adalah hanya segelintir orang yang benar-benar secara hakikat mendapatkan Lailatul Qodar ia memasuki Suatu Titik Antara Tidur dan Jaga. Titik di mana Rosulullah Saw bersabda “ sesungguhnya manusia itu tidur, setalah mati baru terjaga”. Titik itu adalah mati, kematian maknawiah, kematian keadaan diri, ia telah, fana, fana ul fana, fana fillah, fana fi dzatihi, sirna tenggelam dalam Zatnya yang Wajib Al wujud.

Pada saat dzikir Ia merasakan kelelahan yang luar biasa, dan memasuki satu titik yang tak bisa dikatakan, wilayah ketakhinggaan Wujud Mutlak dan pada saat ia keluar dari titik ini, ia sudah tak lagi menggunakan jasad lahiriah tetapi ia dianugerahi, di limpahkan anugerah mendapatkan Jasad Barzakhi, jasad keabadian yang dipakai untuk memasuki syurga, melintasi Sirath Al Mustaqim. Jasad barzakhi ini memiliki sifat yang sempurna ia mampu melihat alam ruhaniah sampai alam lahiriah tak terhijab, melihat jiwa manusia, melihat hati manusia, melihat wujud-wujud kesejatian tiap-tiap sesuatu. Ia melesat dengan kecepatan cahaya, melintasi planet memasuki syurga. Melihat ruang angkasa yang tak bertepi yang tidak berawal, tidak berakhir.



Yang ketiga inilah yang terlibat langsung dalam peristiwa lailatul qodar, yaitu orang-orang yang telah sampai pada martabat aulia, ia merasakan benar keadaan dirinya, ia menggunakan jasad yang disebut jasad barzakhi, dan dia sudah di anugerahi untuk menggunakan tujuh sifat ma’ani Nya Allah yang disebut sebagai Nur Muhammad, mendengar melihat, berkata-kata, berkehendak,berkuasa, mengetahui, dan hidup, ia merasakan lailatul qodar seperti ia hidup di alam lahiriah saja, semua bisa digapai, dirasa dan di perintah. Mereka (para aulia dan anbia) inilah yang sebenarnya mengatur turunNya Lailatul Qodar.



.

Jadi lailatul qodar bukanlah sesuatu yang mudah diraih, tapi harus diperjuangkan semenjak sekarang, ketika Ramadhan sudah berlalu, yang harus dipetik adalah semangatnya yang bergelora harus tetap terjaga didalam diri sehingga tetap istiqomah, berjuang, beribadah dan beramal sholeh untuk mendapatkan hakikat Lailatul Qodar di Tahun yang akan datang.



Ya Allah Limpahkanlah Rahmat, Maghfiroh,
kebebasan dari api neraka ( itqu min al nar )
dan Lailatul Qodar kepada kami.

Jadikanlah kami Istiqomah membakar nafsu-nafsu kami,
Jadikanlah kami tanah yang kering agar kami pantas menjadi adam



Duhai Allah,

Jika kami tak pantas menyandang ilmu ini

rahasia ini, hancurkan kami,

binasakan kami sebinasa-binasanya

tiadakan kami dari kehidupan manusia

matikanlah kami dari kehidupan makhluk

biarkan kami mati ditangan kekasihMu

Muhammad SAW

Comments

Popular posts from this blog

Kalam Hikmah Syaikh Maulana Hizboel Wathony

SAJAK AKU