MESRA BERSAMA ALLAH

  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

7 Juli 2009 pukul 23:24


 MESRA BERSAMA ALLAH 

 Di Syaghafaha Hubban

Oleh winarto

Allah itu Indah
dan menyukai keindahahan, 
ketika Allah bercermin,
Tampaklah keindahan yusuf,
Memujilah Allah,Yusufpun memuji.


          Kubertanya pada Syaikh Mursyid, “ ya Syaikh, Alam semesta ini seperti cermin, benarkah?,Ya benar, “jika cermin ini pecah apa yang terjadi?’, Ahad!, Jawab Belio.
Hamba sesungguhnya hanyalah seperti bayang-bayang Allah didalam cermin.Ketika ia bersolek, Allah yang bersolek, ketika ia memuji, Allahlah yang memuji. 
Karena itu Allah mencintai hamba-hambaNya, seperti dia mencintai DiriNya sendiri, maka Allah tembuskan rasa keakuan kedalam diri hambaNya agar ia merasakan seperti yang Allah rasakan.
Allahpun sering terpesona terhadap diriNya sendiri, seperti saat Allah resapkan rasa CintaNya kedalam hati Zulaikha ( seorang istri pejabat pada kerajaan mesir tempo dulu) kepada Yusuf.Allah anugerahkan kepada Zulaikha hati yang penuh cinta, yang disebut sebagai “Syaghafaha Hubban” (QS.Yusuf30). 
“Syaghafaha Hubban” (cinta yang ada didalam intinya hati) Adalah hati yang terdalam lebih dalam dari qul'b, qul'b atau yang disebut sebagai kalbu adalah hati yang masih terbolak-balik, kadang terang disinari cahaya iman kadang ia gelap membelakangi cahaya iman, karena kalbu adalah hati yang berada dilapisan luar, dan dipengaruhi oleh keadaan luar hatinya.
Didalam hati qolb ada hati yang dinamakan Fu’ad, yang disebut dengan nama af’idah(QS 32 Ayat 9).Hati ini adalah hati yang dipenuhi oleh cahaya iman,ia adalah aqal yang melihat segala sesuatu dengan kaca mata iman, terbitnya syuhud ( menyaksikan segala sesuatu berasal dari Allah) awalnya dari hati fu’ad ini. Syuhudnya seorang pesuluk pada permulaanya wajib terbit dari kacamata iman, artinya meyakini bahwa apa yang dikatakan Alqur’an (Syaikh mursyid) adalah benar.
Ketika keyakinan ini telah tetap istiqomah bersemayam didalam hati fuad maka Allah akan mengeluarkannya dari kegelapan kepada Cahaya, Yakni dibukanya lapisan hati fuad dan nampaklah apa yang dinamakan hati “Syaghafaha Hubban”.
“Syaghofaha Hubban” adalah dua lapisan hati didalam hati fu’ad. Lapisan yang pertama dinamakan Syaghafan (intinya hati yang ada di dalam) lapisan hati yang sangat dalam yang dipenuhi oleh kedekatan dengan Allah, hati yang telah mengalami tarikan kemesraan dengan Allah, hati yang terpesona melihat wujudNya nan elok, yang telah mengenyam cita rasa syuhud.Hati inilah yang diambil oleh Allah tatkala yusuf dewasa dan diisinya dengan ilmu dan hikmah.
Dan tatkala Zulaikha mengalami rasa ketertarikan yang semakin dalam meliputi seluruh hatinya, tiada lagi yang harus dilakukan Oleh Allah kecuali menurunkan CintaNya kepadanya.
Allah bukakan pintu Hati yang bernama Hubban, inilah hati para pecinta, yang mulai mabuk dalam keterpesonaannya kepada Allah.
Hingga Akhirnya membuatnya menyerahkan seluruh pengaturan dirinya kepada Allah. Zulaikha mengalami hal yang setara dengan ini, ia terpesona melihat perilaku dan ketampanan yusuf, hingga ia lupa statusnya sebagai seorang istri, ia lupa lahiriahnya, ia lupa akan kehormatannya, ia telah bertekuk-lutut kepada cintanya yang bergelora, yang teramat dalam.
Selanjutnya ia dengan sukarela menutup pintu-pintu, pintu hatinya telah tertutup dari sesuatu selain yusuf.Selayaknya seorang pesuluk ketika ia mengalami kemesraan, kedekatan, kecintaan kepada Allah,dengan gerakan cinta yang tanpa sadar ia telah menutup seluruh pintu-pintu hatinya dari sesuatu selain Allah.

Yusuf menyadari hal ini, menyadari bahwa cinta Zulaikha kepadanya adalah cinta yang tulus suci dari hati yang terdalam, yang hanya dipenuhi oleh cinta kepada dirinya yang adalah cermin dari keindahan Allah. Maka Tatkala Zulaikha berhasrat dengan Yusuf, Yusufpun menyambutnya dengan berhasrat kepada Zulaikha (Qs.Yusuf 24).Namun Yusuf adalah seorang nabi yang dipilih Ia melihat tanda dari Tuhannya, bahwa cinta yang suci yang datang dari Allah tidak selayaknya dilahirkan dalam bentuk kekejian dan kemungkaran, maka yusuf As menolak Zulaikha, bukan karena tidak mencintainya. 
“Syaghofaha Hubban”, kedalaman cinta yang dirasakan Zulaikha benar-benar bukan cinta yang hanya dipermukaan, ini dibuktikan olehnya ketika mengundang wanita-wanita yang mencelanya kerumahnya untuk melihat Yusuf dan memberikan setiap wanita sebilah pisau.Dan ketika Yusuf memperlihatkan dirinya kepada mereka, tanpa sadar mereka melukai jari mereka, dan memuji Allah atas kesempurnaanNYA yang diberikan kepada Yusuf.
Tandanya Cinta Allah turun kepada hambaNYa, ia tak merasakan sakit tatkala ujian berat menimpanya, bahkan ada yang mengatakan ujian adalah lebaranya para salikin. Begitupun yang dirasakan oleh Zulaikha yang juga telah dirasakan para wanita yang melihat Yusuf, tanpa sadar jari mereka terluka.
Jelas sekarang bahwa kesempurnaan, keindahan, dan ketampanan Yusuf bukanlah sesuatu yang relatif tetapi sesuatu yang mutlak, yang memiliki pengaruh yang sama bagi yang melihatnya. Karena Ia adalah cermin dari keindahan Allah.
Yusufpun mengalami hal yang serupa, melihat Cinta Zulaikha adalah cinta Allah, maka iapun berdoa kepada Tuhan-Nya,
“Wahai Tuhan-ku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku.Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tentu aku akan cenderung untuk(memenuhinya) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.”
Yusuf memahami bahwa kemabukan cinta yang dirasakan dirinya adalah kemabukan melihat Allah yang mewujud pada Julaikha, dan sama juga seperti yang dirasakan Zulaikha, jika dibiarkan maka akan cenderung meninggalkan kebaikan syar’iyah.Zulaikha sendiri seolah-olah sudah menjadi tuhan dengan mengancam,”Jika dia tidak mengikuti perintahku, maka akan dipenjarakan”,Ia mengatakan seperti ini karena berada dilingkaran kekusaan, siapapun yang berada dilingkaran kekuasaan akan cenderung menjadi tuhan, berbeda jika ia adalah rakyat jelata , bisa jadi ia akan bersujud dihadapan Yusuf untuk mendapatkan cintanya, ia akan rela menjadi hamba.
Zulaikha yang mendapatkan limpahan cinta yang dalam dan mendasar dari Allah, mengalami kebingungan, di ayat itu dikatakan sebagai kesesatan yang nyata, yang dimaksud sebagai kesesatan yang nyata sebenarnya adalah kebingungan yang teramat sangat dimana semua cintanya, terutama kepada suaminya hilang lenyap ditelan cintaNya kepada Yusuf.(Pesuluk akan memahami apa yang ada didalam hati Zulaikha saat ia berjumpa dengan Syaikh Mursyid, seperti saat dimana rumi berjumpa orang “liar” bernama Syamsudin Tabriz,)
Maka dengan pertimbangan ini Yusuf memilih untuk dipenjara, sekalipun dirinya tidak bersalah, tentu maksudnya bukan ingin memenjarakan jasadnya tetapi lebih ke wilayah bathin-nya, ia ingin memenjarakan nafsunya yang disebut sebagi nafsu Ammarah yang sedang bergelora karena cintanya Zulaikha. Ia memahami dengan benar bahwa terangkatnya siksaan bukan dimana ia berada, dipenjara atau dibebaskan, di neraka atau disurga tetapi hilangnya siksaan adalah tatkala Allah membuka hijab-hijab nafsunya.
Ini terbukti ketika ia terbebas dari penjara ia berkata “ Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan (ammaratumbissu’i).
Juga tentang tabir mimpi yang Allah sodorkan kepada Yusuf, yakni mimpi tentang makanan, minuman, mata pencaharian, binatang yang semua itu semakin meperkuat keberadaan nafsu ammarah yang sedang dihadapi yusuf.
Terbebasnya Yusuf dari penjara nafsu Ammarah, bukan karena kehendak yusuf, Tetapi Allah menghendaki Ia terbebas pada waktu yang Allah tentukan, yakni pada saat Raja memanggilnya untuk menabirkan mimpi sang raja, bukan pada saat Yusuf menghendaki untuk bebas.
Terbukanya tabir mimpi raja juga sama artinya terbukanya tabir nafsu Ammarah yang meliputi Yusuf, sehingga Yusuf mampu melihat dengan jelas nafsu Ammarahnya, Dan dipilihnya Yusuf sebagai orang yang dekat dan dipercaya oleh raja. Dan Keinginan Yusuf menjadi Bendahara semakin memperjelas kedudukan yusuf sebagai orang yang telah menundukan nafsu Ammarah. Yang pada perjalanan selanjutnyapun ia mampu menundukan nafsu lawammah dan syawalat yang didatangkan Allah dalam wujud saudara-saudaranya.
Melepaskan hijab nafsu Ammarah, lawwamah dan syawalat bukanlah perkara yang mudah, jika hanya dengan berpuasa, dzikir,dan banyak beribadah Allah tidak akan melepaskanya.
Tetapi Jika Allah memberi kemudahan dan pertolongan tidak ada yang mampu mengalahkanya.
Hati “Syaghofaha Hubban”, adalah lapisan hati yang tunduk dan pasrah kepada pengaturan Allah, ia melihat indahnya pengaturan Allah, indahnya penyerahan diri dalam cinta dan kemesraan denganNya, hingga tampak jelas tajali-Nya pada setiap titik kehidupan. 
Turunnya Cinta Allah kepada hamba adalah saat dimana Allah membuka hati“Syaghofaha Hubban”, saat dimana cinta hamba lenyap ditelan oleh CintaNya, saat dimana semua pintu hati tertutup oleh cintaNya.Saat dimana Cinta Allah menelan setiap wujud yang ada didalam hati seperti nafsu Ammarah sampai Mutmainah, seperti ditelannya ular-ular kecil milik ahli sihir mesir oleh ular besarNya Musa.
Saat dimana diri pasrah mengabdi, tenggelam, hilang kedirian, fana, sirna didalam rasaNya itulah cinta.Saat dimana akal dan hati hanyut terbawa derasnya arus cinta.Saat dimana jiwa dan akal hancur terbakar api cinta. Saat dimana hanya ada aku dan Aku,aku ditempat penghambaan dan Aku diatas singgasana, dalam kemesraaan. Saat dimana cinta dan Cinta menyatu dalam kesatuan tampa batas.


tertunduk

Mestinya ku ungkap rasa
dari dasar jiwa yang terbakar api cinta
menyemburat aku dari gunung hati
naik-naik kelangit akal
luluh lantak fikiranku
tertunduk aku dalam ketundukan

Ketundukan meyergap bayang-bayang
sekalipun yang kugapai kekosongan
namun kunikmati keterpisahan ini

Ketundukan menerima keterperihan
melihat keterbatasanku,
namun kunikmati penantian didalam
kesatuan tanpa batas.

Ketundukan menahan keindahan
melihat kekuranganku.
namun kunikmati arus cinta membawaku
kedalam kehadiran

Ketundukan memeluk kerinduan
melihat wajah dibalik cermin
tertunduk
الحمد لله

Comments

Popular posts from this blog

Kalam Hikmah Syaikh Hizboel Wathony

SAJAK AKU

Matematika Tauhid 1