Posts

Showing posts from September, 2010

Merasa sempurna

Merasa sempurna adalah penyakit akut yang menghentikan perjalanan hamba. Menjaga kerinduan kepada Allah akan menyampaikannya pada hakikat kesempurnaan. Sebab Allah Rindu justru saat Dalam Kesendirian. Dan Allah selalu sendiri maka Diapun selalu Rindu.

JIHAD AKBAR

Oleh Winar To
Yang melipat seribu gundah pada satu wujud. lalu merajut seribu rasa pada satu rasa esa. seperti dedaunan yang dicumbu rayu air. lalu mengering saat ditinggalkan.
Gugur dimedan Jihad tidak sebatas berpisahnya ruh dari jasad. bukan sekedar kebingungan sukma tetapi merasakan makna kematian.
Mati karena melihat cinta tersingkap. Bukan malaikat maut menjemput Tetapi karena cinta yang merobek jantung Lalu terlelap sekejap untuk BANGKIT.

DI BULAN JIHAD

Fanaku BaqoMu

Winar To
Aku tak butuh mendengar gemaMu.
Aku tak butuh akal dan hati tuk menalarMu.
Aku tak butuh rasa percaya padaMu.
Aku tak butuh melihatMu.

Setelah pujapujiku padaMu
dan tobatku adalah WUJUD ingkarku.
Bagaimana aku butuh jika Kau sebut aku FANA?

Setelah Kau simpan Cinta diatas Arsy.
Sedang arsyMU berliput HUWA.
Bagaimana aku butuh KASYAF
sedang sadarMu menyebut aku FANA?

Aku tak butuh apaapa.

DI BULAN MENAIK

MendengarMu

Winar To 
MendengarMu pada gema diri melara dikuburhati. seperti seruling merdu bermantra sakti. berbisik mewangi lantunkan bisa hewani.
Walau kutahu Engkau berkelakar. Jika mendengar nadanya aku terbakar. Jika menutup telinga aku sirna terkapar.
Lalu berdentum melampaui salah dan benar. Entah kemana perginya yang hendak kulamar. Tiada lagi disangkar.
DI BULAN MEMBAKAR.

MendengarMu

Winar To
MendengarMu pada derap darah di Aorta. suara dua kalimat syahadat bergema. nyaring membelah jantung.
HUWA ALLAH mengalirkan oksigen Merasakan nafasMu menyentuh paru-paru Menyatu dengan darah penyaksian atasMu.
Berhamburan dari tubuh berjuta gambar masalalu. Seolah berkata,”Bacalah Kitabmu, Cukuplah dirimu yang menghitung hari”.
DI BULAN BERBANGKIT.

SiangMU

Winar To


SiangMu menghujani sinyal pada malamku Mungkinkah Engkau mencari mutiara yang tersembunyi dibumiluruhku karena perang?.
Ataukah karena Ma’ul Hayat yang tadi pagi kau siram cahaya. Terinjak keangkuhanku saat menatapMu?.
Kuakui aku terkurung samudera jiwa air asin tetapi Ma’ul hayatku dikedalaman samudera ini tetap menggelegak gelorakan rindu padaMu. Menceluplah dan selami aku.
DI BULAN MENAHAN