SYAIKH MURSYID

بسم الله ا لر حمن ا لرحيم




Syaikh Mursyid



Ilmu adalah sisi luar dari tajalinya Zat Ta’ala di dalam Qolbu Muqmin, didalamnya ada Cinta (Zuhud), didalam Zuhud ada Hikmah, didalam Hikmah ada Kemurahan dan didalam Kemurahan ada Kearifan.
oleh Winar To

Diriwayatkan oleh Abu Huraira Ra:

Rosul Allah saw bersabda,”Mereka berkata Al-Karim (Yang Pemurah) dan ensensinya, Al-Karim adalah Hati seorang Mukmin (HR-BUKHARI)

Ulama jika berhenti pada ilmunya tanpa mencoba mengamalkannya secara mendalam ia akan terhenti di wilayah muta’zilah, jika mengamalkanya maka ia akan mengenal cinta, jika terhenti diwilayah cinta tanpa melanjutkan pengembaraannya akan menjadi Jabariyah, jika melanjutkan perjalanannya akan menemukan Hikmah-Hikmah yang akan mengantarkanya memasuki Ahlu Sunnah Wal Jamaah, jika berhenti disini maka tidak akan terbuka pintu-pintu hakikat yang disebut karomah, yakni tersingkapya pemahaman-pemahaman ilahiyah yang haq langsung dari sisiNya, Jika melanjutkanya maka akan menemui Hakikat keimanan yang akan membawa pada kemurahanNya yang dinamakan kearifan.

Syaikh mursyid sejati yang menjadi guru bagi seorang mukmin yang mendalami ilmunya adalah hati, namun jarang sekali manusia yang mampu mengenal hatinya sendiri, mengenal dirinya saja teramat sulit apa lagi mengenal hati, lebih sulit lagi mengenal Allah, dan yang paling sulit adalah mengenal wali, bisa jadi yang duduk disamping kita adalah seorang Aulia. Hati seorang mukmin adalah tempatnya Allah memerintah, pusat kekuasaanNya. Hati inilah yang akan mengantar, membimbing tiap-tiap manusia yang berharap berjumpa dengan Allah, yang selalu mengalami kerinduan yang sangat kepada Tuhan-nya.

Hati bukan lah sesuatu yang sifatnya lahiriah yang menggantung didada, siapapun yang memasuki hatinya ia tak akan melihat jasad lahiriahnya, penghuninya adalah bangsa ruh, tidak terbatas oleh batasan-batasan lahiriah yang menjadi rumah islam rumah iman rumah aqal, rumah gharistah, rumah cinta, rumah sirr (Hakikat Mukmin) dan istana Ana, QuL Huwa Allahu Ahad.

Al Karim adalah nama Allah yang memiliki arti sekaligus sifat Yang Pemurah, satu-satunya Yang Pemurah, dan Rosululullah menunjuk hakikat Yang Pemurah adalah hati seorang Mukmin.Betapa spesialnya kedudukan hati ini disisi Allah, sehingga Allah menisbatkan nama diriNya kepada hati ini. Di dalam hadis yang lain juga menetapkan bahwa Al-Karim itu khusus sebutan bagi hati seorang yang beriman. Dengan kata lain siapa saja Mukmin yang mampu mengenal Al Karim yang adalah Qolbunya sendiri maka dipastikan ia akan mengenal Allah. Hatinya akan membimbingnya kejalan yang lurus, jalan orang-orang yang ikhlas. Al-Karim bukanlah sekedar nama, tetapi nama yang melekat pada Zat, Sifat dan Perbuatan Allah. Al-Karim merupakan sifat pemurah dalam kemuliaaNya yang Allah tampakan didalam hati manusia untuk memberikan pengajaran ilmu pengetahuan kepada manusia.

Sedang wujud mukmin adalah sesuatu yang telah diliputi nama Allah, Al-Mukmin (Yang memelihara Keimanan), sementara keimanan adanya didalam hati, iman tak bisa dilihat dengan mata lahiriah karena dia adalah “makhluq” yang sifatnya ruhaniah, tidak bisa diukur dengan perilaku-perilaku lahiriah, jika ia nyata pada perilaku lahiriah maka namanya bukan iman tetapi islam.

Hati seorang beriman akan bergerak dan menggerakan seluruh lahiriahnya untuk mengikuti keimanannya. Namun seseorang seringkali terdinding untuk melihat dan mendengar suara hatinya sehingga sulit untuk mencerna apa yang dikehendaki hati nuraninya. Pada akhirnya setiap kali Allah mendatangkan sesuatu kepadanya baik itu keburukan maupun kebaikan akan berakhir pada keburukan. Tetapi jika dinding penutup hati terbuka maka keberkahan, ketenteraman dan kebaikan akan meliputi hatinya.

Kembali kepada Al-karim, Al-Karim bukanlah sekedar nama, tetapi nama yang melekat pada Zat Sifat dan Perbuatan Allah. Al-Karim merupakan kemurahanNya yang Allah tampakan didalam hati manusia untuk memberikan pengajaran, pengetahuan, ilmu kepada manusia. Membimbingnya dari kegelapan menuju cahaya, dari musrik kepada muwahid. Al-Karim juga mengajarkan kepada hati orang-orang yang beriman untuk segera mengenal Allah bil Haq, Dialah sesuatu yang tidak diketahui manusia dan Allah akan mengajarkan kepada manusia untuk mengenalNya.

Seseorang yang telah mengenal Al-Karim adalah orang yang telah sampai pada ilmu LADUNI, Ladunka Ilman, ilmu pengetahuan yang berasal langsung dari sisi-Nya tanpa perantara dengan tujuan untuk mengenalNya, orang yang mengenal Al- Karim dinamakan Al Kurama. Dibawah Al kurama ada banyak tingkatan orang-orang yang mendapatkan limpahan pengajaran dari Al Karim, mereka semua mendapatkan pengajaran melalui perantara qolam/pena.

Jadi ada dua sistem dimana Allah dengan nama Al Karim mengajarkan kepada mahluknya. Yang pertama adalah dengan perantara kalam/pena, ini diperuntukan kepada seluruh mahluk terutama umat manusia. Yang kedua adalah khusus untuk manusia, yang benar-benar manusia, Dia mengajarkan manusia (tanpa perantara kalam) apa yang tidak diketahuinya.



Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Pemurah (AL-Karim).

Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. ( system pengajaran pertama)

Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (system pengajaran kedua)



Syeikh Mursyidku, Syaikh Maulana Hizboel wathony mengajarkan kepada kami tingkatan manusia yang diajarkan dengan perantara kalam, dibagi dalam dua bagian Ilmu yang sifatnya material dan ilmu yang sifatnya spiritual, ilmu yang sifatnya spiritual, Ilmu tauhid, hakikat perantaranya adalah Syaikh Mursyid. Mereka semua berturut-turut dari tingkatan tertinggi sampai terendah adalah,

Al Hukama adalah orang yang telah memahami dan mengamalkan ilmunya sehingga ia memahami hukum-hukum Allah dan mengamalkanya dalam kehidupan sehari-hari. Didalam Ilmu tauhid menurut belio juga, bahwa Hukum dibagi dalam empat bagian, pertama. Hukum Aqli, Hukum Adhi, Hukum Syar’i dan Hukum Wadhi.

Kemudian dibawah Al-Hukama dinamakan Zuhada, Ia adalah Ahli Zuhud adalah orang yang telah mengamalkan ilmunya sehingga ia mampu mengeluarkan kecintaannya terhadap dunia dari dalam hatinya, sekalipun mereka bergelimang harta namun sedikitpun mereka tidak mencintainya, kecintaannya sudah dipalingkan kepada Agama, Akhirat dan Allah Itu sendiri. Kemudian yang terakhir yang mendapatkan limpahan pengajaran dari Al-Karim melalui perantara adalah Al-Ulama, Al-Ulama adalah orang yang telah memahami, mengetahui ilmu yang tertentu yaitu ilmu Tauhid tetapi masih dalam wilayah lahiriah, belum masuk ke wilayah bathiniah,Dan dibawah Ulama, mereka juga mendapatkan limpahan pengajaran dari Al Karim melalui perantara pena adalah seluruh bani adam, seluruh umat manusia mendapatkan pengajaran, untuk mengetahui sesuatu yang tampak di alam semesta.

Dengan lantaran pengajaran ilmu pengetahuan inilah umat manusia seluruhnya mendapatkan kedudukan mulia disisi Allah sesuai dengan derajat-derajat diatas.

Dari sini bisa dipahami bahwa jalan mengenal Allah sesungguhnya sudah ditunjukan olehNya sejak wahyu pertama kali turun dengan perintah Iqro. Iqro yang pertama adalah membaca wilayah–wilayah lahiriah, alam fisik, jasad dan ini diperuntukan kepada seluruh bani adam, seluruh umat manusia, dengan iqro inilah manusia bisa mengetahui dan mengenal alam sekitarnya, sehingga mampu menguasai, memelihara dan memanfaatkan ciptaan-ciptaan Allah yang lain, seperti, bumi, langit, air, tumbuhan, binatang dll.

Dan dari milyaran bani adam Allah memilih sebagian dari mereka untuk menjadi Al-Ulama. Ulama yang dikehendaki disini adalah ulama yang memahami ilmu tauhid yang kasyaf untuk memahami ilmu tauhid yang langka ini Allah memilih sebagian dari seluruh bani adam dan mendatangkan pula gurunya yang disebut sebagai pena, yang akan menulis, mengukir, mempercantik muridnya sehingga menjadi ulama yang siap mengamalkan ilmunya dengan benar. Guru yang di maksud adalah Walia Mursyidan



Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. ( walia mursyidan) (Al-Kahfi 117)



Walia Mursyidan ini sering juga dinamakan Syekh Mursyid, Bahkan sebenarnya dia adalah seorang pemimpin yang akan membimbing anak-anak ruhaniahnya yaitu para salikin untuk mencapai perjumpaan dengan Allah.

Perjumpaan dengan Allah bukanlah sesuatu yang mustahil, karena Allah memiliki sifat Al Awal, Al Akhir, Al-Bathin, Ad-Dhohir. Dan ke empat sifat itu dalam rupa prototip yang tak terpisahkan dengan yang asli, ada pada manusia.Allah memiliki seribu (ada yang mengatakan seratus) Kasih-sayang, sembilan ratus sembilan-puluh sembilan bagian (ada yang mengatakan 99) untuk penghuni syurga dan satu bagian untuk penghuni Bumi. Jadi ada 1 persen Sifat Kasih Sayang-Nya yang ditembuskan kepada seluruh mahluqnya dimuka bumi ini khususnya manusia. Dan jika ukuranya waktu perbandinganya 1 hari dibumi/1000 tahun di akhirat. Nabi Adam dalam sebuah tafsir diceritakan tinggal disurga hanya dari waktu dhuhur sampai ashar, jika di hitung dalam hitungan bumi kurang lebih ¼ hari x 1000 tahun= 250 tahun. Bayangkan seberapa besar satu planet yang bernama Syurga bagi Adam, disana membutuhkan 2000 tahun untuk sekali putaran dalam sehari semalam.

Bahkan menurut Ulama Warotsatul Anbiya yang telah benar-benar kamal-mukamal dalam penyingkapannya maka segalanya sudah terang benderang, melihat yang Dhohir, ya melihat yang Bathin, ya melihat Yang Awal, ya melihat Yang Akhir, Ya Melihat yang melihat tiada lagi hijab dan tirai yang menutupinya.

Perjalanan untuk mencapai apa yang dinamakan Al Kurama, yang dimulyakan Allah dengan ilmu ladunni adalah sebuah perjalanan menanjak yang teramat sulit sehingga dibutuhkan seorang pemimpin yang membimbingnya kejalan itu.

Syeikh mursyid ini akan mengantarkanya sampai wilayah ruhaniah yang disebut Alam Ruh dan menjadi mukmin sejati untuk menemui Al-karim.

Al-Karim bertugas membimbing hati orang mukmin, meneranginya dengan ilmu ladunni yang sir yang masuk kedalam hatinya dan menembus wilayah lahiriah, sehingga tampak pada hati-hati dan jiwa-jiwa yang mendapatkan ilmu ladunni ini apa yang dinamakan karomah yaitu pemahaman-pemahaman hakiki tentang wilayah Robbaniah, uluhiyah, wilayah ketuhanan, Dan hal ini ditegaskan oleh Allah, menamakan wahyu dengan nama Alqur’anul karim, ini mengisyaratkan bahwa yang memberi wahyu, ilham dan pengajaran-pengajaran adalah Allahul Karim.

Al Karim ini juga yang mengantarkan seorang salik kedalam jalan Madzubillah, jalan dimana seorang salik mendapatkan tarikan-tarikan Ilahiyah yang pada akhirnya membuatnya intim, mesra dengan Allah karena cinta dan pengenalan kepadaNya teramat dalam.

Orang yang Madzubillah mengalami Empat proses tarikan ilahiah yakni berupa tajaliat DzatNya SifatNya, AsmaNya, dan Af’alNya, proses madzub bagi seorang salik adalah masa-masa yang paling sulit dalam hidupnya, ia harus dekat terus dengan Syaikh Mursyidnya yang akan mengantarnya pada kelahiran ruhaniahnya yang disebut “keluarlah engkau dari diri kemanusiaanmu” (Al-Hikam), jika tidak maka yang terjadi adalah kemadzuban tanpa kelahiran, fana tanpa baqo, taroqi tanpa tanazul, seperti janin yang tak pernah bisa lahir, ke atas tanpa bisa turun, ke langit tanpa mampu kembali ke bumi.

Membuat aku…. Ingat kisah Syaikh Mursyidku, belio menerangkan seorang salik yang hanya belajar dari buku tanpa bimbingan Syaikh Mursyid seperti Bekicot yang menaiki sebuah tongkat/ lanjaran buluh, bekicot itu naik kemudian turun, naik lagi pelan-pelan, lalu Jatuh, naik lagi sampai hampir puncak lalu jatuh lagi, naik lagi sampai puncak, ternyata setelah sampai puncak dan nongkrong diatas tongkat, si Bekicot ini bingung bagaimana caranya turun, ia tidak mungkin bisa turun tanpa bantuan seseorang atau lanjarannya patah, dan terjerembab kedalam kenistaan. Begitulah gambaran seorang salik yang tak terbimbing oleh seorang Syaikh Mursyid.

Keluarnya bayi ruhaniah seorang salik dari maqom Madzubillah mesti didampingi Syaikh Mursyid, karena yang dinamakan keluar dari diri kemanusiaan ini memiliki berbagai tingkatan, dan setiap tingkatan membutuhkan dorongan khusus, energi khusus dari Syaikh Mursyid.

Hingga Jiwanya tenang kembali pada Tuhannya. Hatinya puas dan mendapatkan Ridho-Nya untuk bertemu dan berkumpul dengan jamaah hamba-hamba-Nya yang sholeh dan ditenggelamkan kedalam syurga-Nya.

Lalu adanya dimana Al-Karim ini?, untuk mengenal Al-Karim harus terlebih dulu mengenal Al-Mukmin yaitu suatu sifat Allah yang mengilhamkan kepada manusia untuk tetap memelihara diri dalam keimanan, yaitu dengan memerintahkan (mengilhamkan) kepada para ruh untuk menyaksikan, mengkhitab Tuhannya. Dan pada saat itu terciptalah dinding penutup antara hamba dan Tuhan.

Dinding penutup itu disebut iman, ia adalah batas pertemuan antara dua lautan, yang satu tawar dan yang lainya asin dan dari keduanya tersimpan ikan yang segar-segar. Iman juga merupakan amanah, bahkan amanah yang pertamakali Allah turunkan kepada manusia tatkala masih berupa ruh, yaitu penyaksian hakikat Haq Ta’ala sebagai Tuhan dan diri ruh sebagai Hamba

Al-Mukmin adalah argumentasi bagi pejalan yang berharap berjumpa dengan Allah. Hanya iman saja yang mampu menyaksikan Tuhannya, karena Allah juga bernama Al-Muqmin, muqmin bertemu dengan Al Muqmin, bukanlah sesuatu yang dipersoalan.

Yang mengantarkan seseorang mengenal Al- Mukmin adalah Syeikh Mursyid, kembali Syaikh mursyid memiliki peran besar bagi kelahiran bayi ruhaniah. Al-Mukmin bersama Syaikh Mursyid mengantarkanya untuk mengenal Al-Karim, dan Al-Karim inilah yang mengajarkan kepada hati yang diliputi Al-Mukmin untuk mengenal Ar-Rohman dan Ar-Rohim yang makna umumnya welas asih, kasih sayang dengan kasih sayang Allah inilah seorang mukmin akan mengenal Allah.

Dan Allahlah yang menyematkan mahkota Al-Khobir, yaitu sifat Allah yang mengajarkan kepada hati untuk menularkan kepada umat lainya untuk mengikuti jejaknya mengenal Allah.

Al-Khobir sebenarnyalah yang melanjutkan misi Syeikh Mursyid, dia adalah yang telah mengalami, merasakan sehingga mampu mengkabarkan, Al-Khobir seperti menteri pencerahan dalam sebuah kerajaaan. Nama Allah yang melekat pada hati seorang mukmin yang telah mengalami perjalanan ruhaniah berjumpa dengan Allah dan kembali ketengah-tengah masyarakat manusia dengan membawa cahaya pencerahan jiwa.

Allah memiliki sembilan-puluh sembilan nama, 99 nama inilah yang ada pada Hakikat Mukmin. Dengan membawa 99 nama, Hakikat Mukmin berjalan diatas bumi. Memberi pencerahan, mencahayai jiwa-jiwa yang gelap, menarik tangan-tangan para pejalan yang terlunta-lunta dalam kebingungan yang nyata.Sahabat bagi jiwa yang sakit, rindu dan cinta.

Teman perjalanan menenggak minuman langit. Meminumnya dalam kebersamaan.Kebersamaan dengan para syhuada yang menyaksikan.Menyaksikan yang disaksikan tiada berpisah juga tiada menyatu. Tiada penyatuan juga pemisahan dari dulu (azali), sekarang, dan yang akan datang begitulah adanya tiada ada perubahan.

Berharaplah tetap dalam jubah Syaikh Mursyid. Jangan lari darinya dan meninggalkanya sebab akan sakit dan terlunta-lunta seperti anak ayam yang kehilangan induknya.

Al-Khobir mimiliki makna yang luas dan besar yang sifatnya universal serta khusus, yakni bagi orang-orang yang ingin mengetahui tentang penciptaan langit dan bumi yang sifatnya ruhaniah, ketuhanan maka bertanyalah pada Al-Khobir. Wujud lahiriah dari Al Khobir adalah Muhammad Rosulullah Saw, yang diwakili oleh seorang Syaikh Mursyid.



Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia.

 الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ الرَّحْمَنُ فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيرًا



Jadi siapa sesungguhnya yang mengenal Allah?, siapa yang melihat Allah, Hamba? Ataukah diri-Nya sendiri? Maka,



Mintalah fatwa (keterangan hukum) kepada hati dan jiwamu. Kebajikan ialah apa yang menyebabkan jiwa dan hati tentram kepadanya, sedangkan dosa ialah apa yang merisaukan jiwa dan menyebabkan ganjalan dalam dada walaupun orang-orang meminta atau memberi fatwa kepadamu. (HR. Muslim).



Dari penjelasan diatas dapat diringkas bahwa jalan untuk mencapai kearifan adalah yang pertama dengan Ilmu akan mendapatkan Cinta dengan cinta akan mendapatkan Hikmah, dari Hikmah-hikmah yang Allah turunkan kepadanya, Allah membuka hatinya dengan Hakikat Iman,dengan hakikat keimanan ini maka terbukalah pintu kemurahan yaitu dibentangkanya ilmu pengetahuan dari sisiNya,ia menciduknya, mengecapnya, meminumnya, satu gelas minuman laduni ini siapapun yang meminumnya tidak akan pernah kehausan lagi.

Ada Ilmu, cinta, hikmah, Iman, dan kemulyaan laduni hingga Allah menariknya pada penyaksian Hakikat Wujud-Nya Yang Ahad, tak seperti apapun Dan Akhirnya ia kembali turun kedalam masyarakat dengan diri kemanusiaannya yang baru yang diliputi oleh kebaikan(ihsan) yang disebut kearifan.



الحمدلله رب العلمين

Comments

Popular posts from this blog

Kalam Hikmah Syaikh Maulana Hizboel Wathony

SAJAK AKU