Rasanya Ahad

بسم الله ا لر حمن ا لرحيم




Rasanya Ahad



(RAHASIA PENDENGARAN)

Oleh Winar To



Tidak akan menemui PETUNJUK sebelum TERSESAT.
Akhir dari perjalanan AKAL adalah kegelapan dalam kesesatan yang NYATA. Jika ingin Petunjuk, aqal mesti bertemu IMAN, kedekatan iman dan akal adalah rahim CINTA yang adalah rahim Sami’na wa Atho’na yaitu berupa kepasrahan yang diliputi konsep La ilaha Ila Allah yang didalamnya ada keYAKINan dalam keadaan tak terpisah dan tak menyatu namun Ahad.



Ahad bermakna, Satu, Tunggal, tidak ada sesudahnya dan tidak ada sebelumnya, Dia yang Awal juga yang Akhir. Seperti sebuah titik Ba pada “bismillah” Dia meliputi segalanya, kehendak, kuasa, hidup, berkata-kata, mengetahui, melihat, mendengar apapun tak terbatas dalam arah, waktu dan bentuk. Sangat Indah lagi Agung tak ada yang menyertainya, tiada yang bersamanya, apapun yang mencoba menyekutukanya pasti fana tiada membekas. Dialah Yang Dhohir dan Yang Bathin. Tiada perubahan baginya tetap sediakala Qidam Baqo seperti aslinya, dulu sekarang dan yang akan datang.Tiada yang tersebunyi bagiNya.



Jika ingin memahami yang Ahad, Perhatikan Pendengaran.Kehendak, kekuasaan, penglihatan dan ilmu itu jamak,menipu,terbatas.Tetapi pendengaran itu tunggal, bebas dari arah, jarak, tak meruang, dan terbuka. Bahkan Wahyu Turun di tangkap oleh pendengaran. Dia Ahad di langit dan pendengaran Ahad di bumi.



 Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (AS-sajdah-9)



Dia yang Ahad menyerapkan tanda pada pendengaran manusia.Suatu prototip pendengaran yang mirip denganNya dan tak terpisahkan. Jika ingin mencari pendengaran mesti dengan pendengaran,jika ingin bertemu air-mengenalnya mesti jadi air, baru bisa mengenal dan memahami air dengan kesempurnaan yakin.Dan jika ingin mengenal yang Ahad ya dengan yang ahad.Dan pendengaran itu ahad, jika mengenal pendengaran maka adalah jalan untuk mengenal Yang Ahad.

السَّمْعَ. Kata pendengaran ini ditulis dalam bentuk tunggal, ini menunjukan bahwa wujud dan sifat pendengaran itu tunggal(ahad).Terasa dari sifatnya yang mampu mendengar wilayah lahir dan wilayah bathin, ia tak tersekat oleh dinding, oleh arah artinya mampu menghadap kemanapun dalam waktu yang sama,tak perlu menengok ke belakang untuk mendengar suara dari arah belakang, tak perlu memindahkan telinga ke atas kepala jika mau mendengar suara dari arah atas.Ia juga mampu mendengar suara hati si pemiliknya, mendengar dialog-dialog hati, pertengkaran-pertengkaran didalam akalnya.Ahad satu yang unik sendirian.

Dua telinga dijadikan Allah sebagai penopang kedudukan pendengaran dan dibaliknya ada perantara agar cahaya pendengaran yang diserap manusia sesuai kebutuhan manusia yang serba terbatas.

Telinga seperti filter pembatas yang disebut miskat lubang yang dilindungi kaca yang tak tembus yang menghubungkan cahaya pendengaran Allah dan pendengaran manusia, antara yang lemah dan Yang Kuat.Dimana Yang Kuat menyerapkan energi pendengaranNya kepada yang lemah, dan manusiapun bisa mendengar.



Perumpamaan cahaya Allah,
adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus,
yang di dalamnya ada pelita besar.



Tetapi sesungguhnya pembatas itu tidak membuat hamba terpisah dari Tuhan maka dari itu tidak pula membuat hamba menyatu dengan Tuhan. Karena sesungguhnya batas itu hanya sekedar nama ketika nama hamba lenyap maka hanya ada Zat Allah yang Ahad. Hamba lenyap dan Tuhan terserap dalam keesaan Dzat Allah.
Jika tak diberikan telinga (filter lahiriah) dan sumbatannya(filter bathiniah) maka pendengaran manusia menjadi tak terbatas, ia akan mampu mendengar suara apapun dalam jarak dan arah manapun karena sudah lenyap filter pembatasnya. Manusia tidak akan mampu menerimanya, kecuali hamba yang terpilih untuk merasakan keesaan Dzat Allah.

Hal ini terbukti semua tatkala seseorang sedang menghadapi sakaratul maut atau pada orang yang tengah Madzub Billah, yaitu orang yang mengalami sakaratul maut maknawi, alias kemabukan akan kematian, fana.



Alangkah terangnya PENDENGARAN mereka dan alangkah tajamnya penglihatan mereka pada hari mereka datang kepada Kami.(maryam 38)



Makanya diakhir ayat itu dikatakan Agar Kamu Bersyukur.



Selain Ruh, Pendengaran juga adalah sifat yang utama dan pertama kali dibutuhkan oleh makhluqnya ini terlihat dari urutan penempatan kata pendengaran kemudian penglihatan dan terakhir Hati.

Urutan itu juga mengisyaratkan bahwa Allah menciptakan makhluq hidup dimuka bumi ini bertingkat-tingkat. Tingkat yang paling rendah adalah Mahluk hidup yang tidak memiliki pendengaran, maupun penglihatan apalagi hati.Selanjutnya disusul makhluk hidup yang hanya memiliki pendengaran tidak memiliki penglihatan dan hati. Kemudian dilanjutkan lagi dengan penciptaan makhluk hidup yang mememiliki pendengaran dan penglihatan tetapi tidak mimiliki Hati. Ketiga tingkatan makhluk hidup tersebut dinamakan binatang.

Dan tingkat mahluk hidup yang tertinggi yang paripurna adalah manusia dengan Dia menyempurnakan, dan meniupkan ke dalamnya roh-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.

Jadi jika ada manusia yang tak mampu menggunakan pendengaran, penglihatan dan hatinya untuk menyikapi dan mengatur hidupnya,itu pertanda bahwa ia akan mendapat petunjuk.

Semua ajaran spiritual bertumpu pada konsep lapar, diam, jaga, dan kholwat dan keempatnya sudah ada pada pendengaran.Inti dari empat praktik spiritual itu adalah mengesakan pendengaran, sehingga pendengaran menjadi fokus pada satu yang didengar yaitu Allah.Hal pertama yang mesti ditundukan bagi para salik adalah setan yang ada pada pendengaran.Karena didalam pendengaran ini tersembunyi syetan yang jahat yang dinamakan Nafsu AMMARAH.



Mereka menghadapkan pendengaran (kepada setan, Nafsu Ammarah) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta.(as suaraa 223)



Dengan menyucikan (menghadapkan) pendengaran dari sesuatu selain Allah maka akan membuka kehidupan baru, kententraman batin. Pendengaran tak lagi mempengaruhi hati untuk gemrungsung. Tidak lagi berdusta dan sangat terang dari mana asalnya.



Allah seolah-olah membutuhkan sumbatan telinga bagi orang-orang yang dikehendaki Allah untuk tidak mendapatkan petunjuk.Jika kepada orang-orang yang dikehendaki untuk mendapatkan petunjuk maka Allah bukakan sumbatan telinganya yang berupa aqal fikir dengan mempertemukannya dengan keimanan perkawinan atara aqal dan iman inilah yang melahirkan perintah cinta yaitu ilham kedalam pendengaran mereka sehingga mereka mengatakan “سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا.

Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: "Kami dengar dan kami taati". Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi hati (mu).(Al Maidah 7)



Jadi pendengaranlah yang menjadi kunci awal untuk membuka hati para pejalan untuk taat kepada Allah dan RosulNya.Pendengaran seperti sebuah tali yang mengikat perjanjian antara Allah dan hambanya.Tali yang mampu menyambungkan perkataan Tuhan dengan pendengaran hamba.



Pendengaran menjadi saksi seberapa bersihnya hati pemiliknya.Pendengaran memiliki sifat yang sangat jujur, ia menangkap semua bunyi, suara sesuai apa adanya, ia tak tertipu, karena ketegaranya dalam DIAM, Namun ia tetap dalam keadaan JAGA dalam penerimaan berupa kepasrahan yang aktif, Ia selalu dalam keadaan KHOLWAT,dan yang paling mengesankan dia selalu dalam keadaan LAPAR.

Perut pendengaran Lebih besar dari Arsyullah, ia selalu mampu menampung setiap perkataan, bahkan ketika Aqal sudah lupa tentang bunyi-bunyian, tentang nyanyian, suara kendang, rebana, seruling, gitar, nafas-nafas wanita,lelaki, bunyi dengkur disaat tidurpun terdengar sangat terang di pendengaran.Pendengaran masih menyimpanya di langit-langit perekam.

Ia mampu mendengar suara-suara lembut, dari makhluk yang paling lembut. Ia detector suara tunggal peliput tubuh.Jika mencari wujud pendengaran pada tubuh. Tak akan pernah menemukan.

Kutanya dimana pendengaran, tanganku menyentuh telinga, ternyata itu bukan pendengaran. Itu hanya selembar daging yang mustahil mampu mendengar. Mendengar itu sifat Allah yang Dia berikan kepada manusia untuk menyempurnakan kejadianya.

Bahkan segala sesuatu pada saatnya nanti akan menjadi saksi atas perbuatan manusia dimuka bumi ini.Itu semua karena mereka diliputi Pendengaran Allah, mereka akan merekam setiap perkataan yang muncul dari setiap mulut manusia.



“Suara dengung sengau jin yang berlarian ketakutan dan malaikat yang ikut menari dalam nyanyian tinggi melengking menyakitkan kepala menguras peluh keringat dari dahi hingga hampir pingsan dan gendang telinga menyerap menerjemahkan apa yang terjadi disaat-saat munajat sendirian berjamaah semuanya masuk ke perut pendengaran, hati seketika tentram, urat leher terasa nyaman nikmatnya luar biasa”.



Pendengaran selalu melesat arah vertikal, naik dan turun, taroqi dan tanazul cahayanya menjadi seperti sebuah tonggak pohon kelapa, dan sang pemilik menaikinya sambil membuat anak tangga untuk memetik satu butir buah kelapa. Satu butir kelapa Pendengaran akan menjadi anugerah bagi yang sanggup memetiknya.

Butir kelapa Pendengaran menjadi tonggak awal untuk mengaktifkan semua sifat yang Allah turunkan kepada manusia.

Pertama yang diaktifkan oleh pendengaran adalah penglihatan.Ketika butir kelapa pendengaran menangkap bunyi, maka secara langsung ada reflek menengok melihat. Kehendak seolah-olah menjadi terlewati dan sangat lamban dibandingkan penglihatan untuk mengaktifkan fungsi gerak tubuh melaju mencapai sumber bunyi. Ketika seseorang mendengar kemudian melihat baru akal mulai berfikir,dan hati bertanya kehendak apa yang mesti dicapai?.

Pendengaran menjadi hijab bagi orang yang tak mampu mengusir Ammarah yang bercokol ditelinga. Nafsu ammarah itu sesungguhnya sumbatan ditelinga orang-orang yang tak mengenal pendengaran yang menjadikan hati tak mampu menerima pesan dan tanda dari Tuhan-nya pada akhirnya nafsu yang berperan menggerakan tubuh, dan daya nalar untuk menyelesaikan permasalahan disekitar dirinya, dan yang didapat akhirnya kekecewaan, sakit hati dan remuk redam jiwanya terhantam badai kegelapan Ammarah.

TAUBAT dan penyesalan menjadi jalan satu-satunya untuk menghempaskan rasa sakit hati.Dalam tataran ini seseorang akan memahami makna perjuangan, makna JIHAD AKBAR.

DZIKIR dengan suara keras dengan irama yang istiqomah, hentakan yang kuat tapi lembut dan didengar dengan kosentrasi penuh dengan merasakan tidak ada sesuatu perkataan, bunyi, suara kecuali terbit dari Zat Allah Ta’ala.Akan mampu menjembatani seseorang melepas pendengaran dari belenggu nafsu Ammarah.

Suara-suara hati yang lembut , pertengkaran Aqal dan hati mesti ditentramkan dengan DZIKIR HATI yang lembut di tiap detak jantung, dengan merasakan bahwa tiada suara-suara hati maupun perkataan akal strategi konsep dan keinginan kecuali ia terbit dari Zat Allah.

Ketika semua suara, semua bunyi semua kata sudah terdengar merdu di telinga, terdengar indah ditelinga dan engkau mendengarnya sebagai ayat-ayat Allah yang ada di alam semesta,hingga hati tentram mendengar keelokan PerkataanNYA maka pendengaran akan siap memasuki dan tenggelam kedalam Pendengaran ALLAH.

Ketika pendengaran sudah tergantikan oleh Pendengaran Allah maka semua perkataanpun tertelan kedalam Perkataan ALLAH.Penglihatanpun akan menyusul tertelan oleh Penglihatan ALLAH. Suara anak kecilpun akan menjadi Ilham.Suara orang awampun menjadi ilham untuk semakin mendekatkan diri pada pertemuan dengan ALLAH.

Sehingga kehendaknyapun tertelan oleh Kehendak ALLAH.seperti tertelannya ular-ular ahli sihir Firaun kemulut ularnya Musa. Itulah makna Shiroth Al Mustaqim artinya tertelan hancur kekuatan dan daya upayanya oleh Yang Tetap Berdiri. ALLAHU AKBAR.



Allah Yang Mendengar pada pendengaran manusia yang disandarkan pada telinga.



Mencari laduni Tak perlu terbang ke langit Dia ada padamu, tetaplah di Baitul Muqoddas sepanjang Hidupmu Tidakkah Mendengar Rasakanlah minuman hakikat Dan tersenyumlah Tak akan mendengar apapun Tak akan bersuara apapun Apapun itu aku semua itu Engkau.



الحمدلله رب العلمين

Comments

Popular posts from this blog

Kalam Hikmah Syaikh Maulana Hizboel Wathony

SAJAK AKU