20110410

Sepenggal Tentang Ayub As



بسم الله ا لر حمن ا لرحيم


Sepenggal Tentang Ayub As
ISTRIMU ADALAH LADANGMU

oleh Winar To

Terkadang Allah Tanazul kedalam hati hambanya dalam rupa syetan terkadang dalam rupa malaikat jika dalam keadaaan ini Allah selalu menggunakan kata ganti KAMI.

“Istrimu adalah ladangmu”  Maksud kata Istri dalam firman Allah tersebut adalah DUNIA yaitu segala yang bersifat fisik pasangan dari sesuatu yang bersifat bathin yakni jiwa(kamu). Ia menjadi tempat bagi jiwa untuk menyatakan dirinya untuk mengexpresikan pandangan hidup dan segala macam gagasan-gagasan yang ada dalam relung-relung pikiran, itulah kenapa dikatakan sebagai ladang yang adalah tempat menanam benih.

Benih yang baik akan menumbuhkan tanaman yang baik yang memperindah pandangan mata ketika melihat ladang yang  tadinya kosong lalu menghijau dan menyegarkan. Dan Allahpun dalam kaitan Ayat ini mengatakan,”Lelaki yang baik untuk wanita yang baik”.
Artinya ketika hati jernih ikhlas maka ketika melihat dunia akan terasa indah dan bertambah indah, hati yang baik akan mendapatkan dunia yang baik. Namun jika hati  keruh dipenuhi oleh pikiran pikiran kotor maka akan melihat dunia ini sebagai tempat untuk melampiaskan nafsu dan melihatnya tempat yang kotor. Marah, gelisah was-was, penuh prasangka  adalah benih-benih buruk yang akan menumbuhkan pepohonan yang buruk dan ladangpun tiada menumbuhkan apa apa kecuali kerugian. Dan Dunia baginya adalah penjara yang menyesakan.

Ketika Nabi Ayub as, melihat dirinya, jasadnya dipenuhi oleh luka yang menjadi tempat bagi kuman dan ulat-ulat kecil lalu ditinggal oleh seluruh istrinya. Belio tetap menikmati keindahan fisiknya dengan memasukan kembali ulat-ulat yang terjatuh kedalam lukanya.

Ayub As Tidak sekedar hamba yang sabar namun ia adalah sebaik-baik hamba. I mampu merawat isterinya dengan sangat baik. Wabah Ulat yang menyerang tubuhnya  dijadikan sarana untuk menumbuhkan benih cinta dan ikhlas. Ulat-ulat yang menggerogoti tubuhnya sesungguhnya adalah gambaran kehidupan ayub As  sebelum menderita sakit yakni ketika ia dikerumumuni oleh banyak istri. Allah mengganti istri-istrinya dengan ulat-ulat  agar syetan dan malaikat yakin bahwa Ayub As adalah hamba yang sabar dan penuh cinta kepada Allah. Hal ini di perkuat oleh firmanNya

“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” (QS. Shad: 44)


Allah menggunakan kata Kami dalam ayat tersebut  sebagai penegas bahwa yang mendapati dia yang Sabar tidak sekedar Allah dalam pengertian Zat saja namun Allah yang meliputi keinginan syetan untuk mengetahui tentang Ayub as. jadi kata Kami dalam pengertian diatas adalah Allah dan Syetan (malaikat) yang merupakan wujud dari keinginan syetan yang dipenuhi olehNya.

Terkadang Allah Tanazul kedalam hati hambanya dalam rupa syetan terkadang dalam rupa malaikat jika dalam keadaaan seperti ini Allah selalu menggunakan kata ganti KAMI.

Begitupun Al qur’an terkandang makna harfiyah tidaklah cocok dengan kenyataan hidup bahkan sering kali  tidak singkron maka dibutuhkan penggalian untuk mencapai makna-makna hakiki.

Misalnya Ayat diatas yang bunyinya,”Istrimu adalah Ladangmu, Kamu boleh mendatanginya dari arah manapun yang kamu suka”. Jika diterjemahkan harfiyah saja maka kalimat ini akan bercabang-cabang maknanya dan menjadi bersifat parsial dan bertolak belakang dengan sifat Alqur’an yang UNIVERSAL. Apalagi jika dihubungkan dengan gender, hubungan suami istri atau sex  dalam pengertian menanam benih dalam arti sperma maka akan semakin bertambah runyam dan kontra produktif dan mejadi keluar dari rel-rel Syari’at.

Kemudian ada ayat lain yang masih ada hubungannya dengan Ayat diatas yakni yang mengatakan lelaki yang baik untuk wanita yang baik, namun pada kenyataanya banyak wanita baik bersuami buruk dan suami baik beristri buruk. Pengertian ayat diatas sesungguhnya tidak ada hubungannya dengan hubungan suami istri.

Namun perngertian Lelaki dalam ayat itu adalah wujud batiniah manusia  yakni HUWA dan Wanita dalam pengetian diatas adalah wujud Nafsu dan Jasad.Hal ini dipertegas oleh sebuah hadist yang mengatakan,” didalam drimu ada segumpal daging, jika baik maka baiklah seluruh tubuhmu, jika buruk maka buruklah seluruh tubuhmu dan daging itu dinamakan HATI”

Sesungguhnya syariat itu menyesatkan bagi orang-orang tidak memahami hakikat. Namun bagi yang memahami hakikat syariat adalah  cahayanya CAHAYA dan CAHAYA tiada lain adalah diri yang BERCAHAYA.

الحمدلله رب العلمين

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar